Senin, 14 November 2011

Air Mata Ini

Senja berlalu meninggalkan sunyi didalam diri ini, berhembus-hembus api kehidupan menunggu padam dikumpulan tetes bensin, membalas senyum yang tak pernah luntur dihempas ombak tawa membahana, bohong hilang tanpa ada keterangan yang tak pasti datang.

Malam telah larut bersama nyayian gagak, suara yang tak pelu pelan menyayat kebisuan haruskah lensa ini bertumpah darah hingga semuanya kembali terang.

Terang datang tersisa ketidakpastian!!!!...


Hanya Sesalku Diam

Minggu, 06 November 2011

Terlalu Baik / Terlalu Bodoh ??!!!

Mungkin sebuah pernyataan yang tak bisa dikaitkan satu sama lain, tapi terkadang ketika merasakan hal itu terkena dalam kasus ini, selalu terjadi kebimbangan, bukan sekadar satu atau dua saat, tapi terasa sampai jari tangan habis, sering rasanya dibohongi oleh kedalamannya, cuma sekali sempat sadar, hanya sekali, hanya sekali, ketika sekali itu, pernah terjawab pertanyaan ini, setelah itu hilang tak menampakan lagi.


Kalo cuma sekali tak tahu jawabnya mungkin dikesempatan berikutnya akan yakin dengannya, bukan waktu yang menunggu tapi asa yang tak menentu jiwa, bukan mimik yang akan menyapa, hanya sebelah mata yang aku dapat.

Hmm, lama kepercayaan padam mati tak menyeka tangis, jeritan terdengar pelu, di palung hati.


Hanya Sesalku Diam

Kamis, 27 Oktober 2011

Sebelah Mata

Terdiam memperhatikan sekeliling, menatap langit tak kian menjawab tanya, tiap hentakan kaki hanya tertinggal debi kehampaan didalam palung jiwa, sepi semakin sepi hanya terdengar samar-samar teriakan yang semakin lama semakin tidak mengerti teriakan itu bersumber.

Sedetik setelah melangkahkan langkah ini, semakin banyak teriakan, keras dan keras, kemudian terasa banyak tangan-tangan menahan kaki ini, tanpa mengeluarkan sebutir kata-kata hanya terus menahan semakin-semakin tak membiarkan melaju. Sempat terpikir tuk menyerah, tangan-tangan itu membuat terperangah, tangan itu tangan yang tidak asing di lensa. 

Walau berat jejak langkah ini akan selalu torehkan citra positip dalam diri, tak akan buat semakin banyak teriakan yang akan selalu berderu dibelakang. 


“Tak peduli orang mau menilai apa tentang diri ini, diri ini akan terus melangkah terus secepat angin”


hanya sesalku diam

Kamis, 20 Oktober 2011

Kepercayaan

Ketika seolah-olah masalah menguap tak berbekas, entah berpindah dari kepala menuju inti, membuat gumpalan-gumpalan besar di inti, mungkin rasanya pahit, sekali terasa hambar tak berpindar, mungkin tak terlihat di permukaan, hanya inti yang tercabik-cabik menjadi abstrak.

Hanya ketika aku tak sadar akan kekuatan kepercayaanku terhadap dia, hanya sekali terdiam membisu nan sunyi, akankah terjadi untuk kedua kali, kepercayaanku tak berarti se-nano pun di dalam dirinya, mungkin aku sekedar diam tak tahu arah, tertatih-tatih tak menentu akan tujuan akhir, hanya berbekalkan awal yang mungkin sudah menjadi debu di pinggiran jalan, terombang-ambing dalam keacakannya, tanpa membimbing menuju tujuannya.

"Kepercayaan itu sangatlah mahal, bahkan lebih berharga daripada diam" seharusnya kata-kata sederhana itu yang orang gunakan untuk menilai suatu kepercayaan.

Hanya sesalku diam.

 
Powered by Blogger